Alor adalah sebuah pulau yang terletak di ujung timur Kepulauan Nusa Tenggara. Luas wilayahnya 2.119 km², dan titik tertingginya 1.839 m. Pulau ini dibatasi oleh Laut Flores dan Laut Banda di sebelah utara, Selat Ombai di selatan (memisahkan dengan Pulau Timor), serta Selat Pantar di barat (memisahkan dengan Pulau Pantar. Pulau Alor adalah satu dari 92 pulau terluar Indonesia karena berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.
Pulau Alor di Nusa Tenggara Timur termasuk salah satu pulau terluar di wilayah Indonesia yang perairannya berbatasan dengan Timor Leste. Die Pulau kecil ini terdapat keindahan bawah laut yang memukau.
Pulau Alor dikatakan unik karena mempunyai hampir 13 bahasa daerah dengan 40an bahasa etnis/suku, namun yang mempersatukan bahasa di Alor adalah Bahasa Indonesia. Bisa dikatakan Alor merupakan pemegang rekor untuk bahasa Indonesia, karena dari yang tua sampai balita, dari pinggir kota sampai pedalaman gunung, semuanya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Alor terkenal dengan sebutan kota kenari dan juga kota 1000 moko.
Moko merupakan jenis alat pukul yang menurut para leluhur datang dari negri Mongolia/Cina. Alat ini di Alor digunakan untuk upacara adat dalam peminangan gadis untuk dijadikan istri. Jaman dahulu, kalau tidak ada moko maka tidak dapat memperistri seorang gadis.
Kenari merupakan salah satu hasil pertanian utama yang ada di Alor. Mempunyai bentuk yang unik dan rasa seperti kacang, merupakan bahan pembuat kue dan teman santapan dengan jagung titih.
Makanan khas yang terkenal di pulau Alor adalah “Kue Rambut”. Kue yang dibuat dari tepung ini mempunyai bentuk yang unik seperti helai rambut orang indonesia timur (keriting) dan mempunyai rasa yang khas dengan gurih/renyah ketika dimakan.
Buah yang terkenal di pulau Alor adalah “Mangga Kelapa”.
Buah mangga ini mempunyai ukuran jumbo seperti buah kelapa pada
umumnya. Rasanya asam ketika masih mentah, namun ketika masak (matang)
sangatlah manis. Dengan rasanya minis yang berbeda dari mangga yang
tumbuh di Indonesia. Mangga ini ketika matang tidak seperti mangga pada
umumnya, yang semua struktur buahnya lembek, namun mangga ini ketika
matang diluarnya keras, dalamnya lembek. Mangga ini merupakan jenis
satu-satunya yang berada di NTT Alor mempunyai tempat pariwisata yang tidak kalah dengan Bali. Di Pulau Alor ini terkenal dengan pantai berpasir putih yakni :
1. Pantai Ling’al.
adalah pantai dengan pasir putih yang memanjang kurang lebih 500 meter dengan lautnya yang masih sangat alami, bening dan biru mempesona. Keindahan hamparan pasir putir berpadu hijau bukit dan birunya laut di Pantai Lingal, Desa Halerman, Kecamatan Alor Barat Daya, Alor, NTT (5/10). Pantai yang berjarak tempuh sekitar 2-3 jam dari Desa Alor Kecil menggunakan kapal ini memiliki keindahan alam yang luar biasa, mulai dari beningnya laut, pasir putih, hijau perbukitan, hingga keramahan penduduk setempat kepada pengunjung.
2. Pantai yang sering menjadi obyek wisata masyarakat Alor adalah Pantai Mali
Pantai Mali berada di Desa Kabola Kecamatan Teluk Mutiara dengan jarak 10 KM dari Kota Kalabahi. Pantai ini menyajikan air yang tenang dengan pasir putih dan taman wisata alam laut yang indah serta rimbunan pohon kelapa yang banyak buahnya. Pantai ini merupakan pantai paling terkenal dan yang paling sering di kunjungi oleh masyarakat di Kabupaten Alor. Dari pantai mali sekitar 3 km dapat dilihat suatu pemandangan alam hutan nostalgia dimana para pengunjungnya diberikan aneka tanaman untuk ditanam sekitar lokasi dengan mencantumkan namanya pada pohon tersebut. Pada hutan ini juga terdapat sebuah mata air yang sejuk dibawah rerimbunan pohon kenari dan cendana yang indah.
3. Pantai Maimol
Maimol adalah suatu kawasan wisata dengan pemandangan laut yang sangat indah, Maimol sebagai kampung nelayan tradisional, memiliki potensi cukup baik guna menjadi penghasil ikan di wilayah kabupaten Alor. Di tempat ini anda bisa menyaksikan keseharian Nelayan setempat, di mulai dari cara menganyam alat penangkap ikan (pukat, sebutan masyarakat setempat), perawatan hingga cara penangkapan ikan yang masih tradisional. kita juga langsung dapat menikmati hasil tangkapan nelayan yang beragam. Diantaranya berbagai ikan, cumi-cumi, gurita, udang, dll. ( bisa langsung dibakar).
Pantai Mali dan Maimol pantai ini tidak terlalu jauh dari Ibu Kota Alor-Kalabahi. Jarak tempuh ke Mali bisa ditempuh dalam 30-45menit, Maimol ditempuh dalam 15-20 menit. Pantai lain yang biasa dikunjungi adalah pantai Pante Daere dan Pantai Batu Putih, Pantai Bearuing (pantai-pantai ini terletak di Pulau Alor).
Untuk daerah wisata yang biasa dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik yaitu:
1. Pantai Batu Putih,
Pantai batu putih ini, terkenal karena batu diujung pantai yang berwarna putih, seperti lapisan dan sedikir berbentuk goa. Bibir pantai ini melengkung indah dengan air laut jernih berwarna hijau toska. Ada yang unik dengan Pantai Batu Putih. Tidak seperti pantai kebanyakan yang bibirnya dihiasi pasir, di Pantai Batu Putih tak ada pasir. Seperti namanya, bibir pantai ini dihiasi batu-batu kecil berwarna putih tulang (cream).
2. Pulau Kepa (Lapatite Kepa)
Pulau kepa dikenal sebagai “Surga Terumbu Karang”. Pulau ini memiliki hamparan pasir putih selembut tepung dan lautan biru jernih yang jauh dari keramaian. Pulau Kepa ibarat dunia yang terlupakan oleh laju peradaban.
3. Pulau Sika
Pulau Sika adalah sebuah pulau kecil yang tidak berpenghuni, Namun di pulau tersebut ini terdapat sebuah Kuburan yang dianggap “keramat” oleh masyarakat di kabupatet ini. Pulau kecil ini terletak di timur laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Posisi pulau ini berseberangan langsung dengan Bandara Mali. dan disini juga tempatnya ikan dugong "mawar"
.4. Jawa Toda (di Pulau Pantar).
Pantai Jawa Toda sendiri terletak di Pulau Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Sebuah pantai pasir putih yang indah, seperti Pantai Pantar Kumbang yang sangat menggoda untuk dijadikan latar belakang foto.
5. Gunung Sirung
Gunung Sirung adalah gunung berapi aktif yang terletak di Pulau Pantar yang terletak di Kepulauan Alor yang berada di timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lereng Gunung Sirung dapat dicapai dengan mudah dari desa di Kakamauta. Dalam kawah Gunung Sirung terdapat sulfur di Danau kawah dan mengeluarkan sulfur dari lubang-lubang gunung. Letusan terakhir terjadi tahun 1970 dan secara teratur mengeluarkan gas dan asap yang berlangsung sejak tahun 2004.
6. Tempat wisata yang tidak kalah menarik yaitu “kampung tradisional TAKPALA”.
Sebuah desa tradisional aktif dari Suku Abui di Pulau Alor yang terletak di dataran tinggi/bukit tak jauh dari kota. Perkampungan Takpala memiliki 15 rumah adattradisional suku Abui atau yang biasa disebut dengan rumah lopo. Hanya tersisa13 kepala keluarga (kk) atau sekitar 40 jiwa yang bermukim di kampung Takpalaitu. 13 rumah adat tak berdinding dan sepasang rumah adat yang disebut Kolwatdan kanuarwat. Dua rumah adat ini tidak semua orang bisa memasukinya, karenahanya orang-orang tertentu saja.
Kampung ini menunjukan kepada dunia bahwa kehidupan masyarakat Pulau Alor Jaman dulu seperti yang ada pada masyarakat di kampung Takpala. Kampung ini sangat terkenal di Indonesia, sering muncul untuk acara Run Etnik pada salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia.
7. Kampung adat tradisional monbang.
Berbagai suku di sana menarik untuk dikenal lebih dekat, seperti suku Kabola. Pakaian adatnya ternyata terbuat dari kulit kayu.
Suku Kabola merupakan salah satu duku di Alor yang mendiami daratan Pulau Alor, Pantar dan pulau-pulau kecil di antaranya. Masyarakat Suku Kabola mendiami perkampungan tradisional Monbang yang berada di Desa Kopidil Kecamatan Kabola , berjarak dari Kalabahi sekitar 7 km.
(Diposting oleh Lhya weni di 17.43)
![]() |
| Fridolin Berek, Emanuel Bria, Dewi Leba, Pius Bria, Roy Tei Seran. |
Sebuah Talkshow bertema Mataros (Hamba - Malaka, Timor) digelar oleh Anak Timor Hits Creative di Jakarta, 21 Juli 2019 yang lalu.
Menggandeng KIKONAS (Kios Kaos Nasional) talkshow live via IG : AnakTimor Hitz Creative tentang kisah hamba, kaum kelas kedua atau kaum pekerja (proletar) diselenggarakan di Kedai Kopi Bolehlebo, Jakarta ini mencoba mengangkat harga diri para Mataros.Pius Fahik Bria salah satu pembicara berharap melalui kegiatan ini, para Mataros dapat bergandengan tangan membalikan anggapan menghina orang terhadap kaum hamba, masyarakat kelas kedua, kaum pekerja atau proletar.
" Karian Halo nu Ata, Ha Halo nu Nain. Bekerja seperti Mataros (hamba), makan seperti Raja ".
" Semoga Kalimat ini merepesentasikan niat dan keyakinan Mataros di mana pun berada, baik di Malaka maupun di semua manusia yang cinta akan Kerja ", tutur Pius Fahik Bria yang pernah menjadi Sekjen DPP GMNI, Memimpin Divisi Kewirausahaan dan Kepemudaan di KNPI, serta seorang pengusaha, dan juga Pemimpin KIKONAS dan anak Timor HItz Kreatif dalam Topik berjudul Pemuda dan Enterpreneurship.
Selain Pius Fahik Bria, turut selaku narasumber adalah Fridoline Berek dan Emanuel Bria.
Fridoline Berek, asal Malaka, yang saat ini konsen di Bidang Pencegahan Korupsi dan mengabdikan diri seutuhnya demi penyelenggaraan Pemerintahan yang Bebas Korupsi, mengangkat judul “ Memperbaiki Kinerja Pemerintahan Melalui Integrasi Perencanaan - Penganggaran ".
Dan Emanuel Bria, Kelahiran Malaka yang sudah lama mengabdikan diri sebagai Aktivis LSM pada bidang Pertambangan, Energi dan Sumberdaya dan pernah berkarya di Vietnam selama beberapa tahun serta aktif menjadi pembicara di berbagai kesempatan, terutama bersama pihak luar negeri dalam berbagai kesempatan dialog mengenai Sumberdaya Energi dan Gas, mengangkat judul " Membangun Indonesia Dari Pinggiran ".
Talkshow Mataros ini dipandu oleh Dewi Leba, asal Kefa, TTU. Dewi Leba sendiri saat ini aktif sebagai Reporter iNews TV di Level Nasional, dan konsen di dunia Jurnalistik secara umum.
Sebelum acara talkshow, Anak TimorHitz menggelar Soft Launcing Rose Laundry dan Studio Anak Timor Hitz.
![]() |
| Kiri-kanan belakang: Don Kapitan, Julian, Melky, Pius Bria, Yanto Seran, Oliver. Depan (ki-ka) : Roy Tei Seran, Fridolin Berek, Emanuel Bria. |
Romo Filto Bowe, Pr imam Diosesan Keuskupan Atambua yang sedang ditugaskan di Jogyakarta memimpin ibadat pemberkatan tempat usaha. Selanjutnya, rombongan kemudian mengunjungi keluarga besar Belu, Malaka, dan TTU Diaspora serta Umat Katolik umumnya di Jakarta.
Kehadiran persatuan Anak Timor Hitz Creative sendiri dipioner oleh Yulius Haryanto Seran.
Selaku pencetus, Yanto Seran berharap anak - anak Flobamora (Flores, Sumba, Timor, Rote, Alor) mampu menggunakan media - media sosial baik facebook, Instagram dan Youtube untuk menampilkan hal - hal positif tentang kekayaan lokal dari Tana Flobamora.
" Menampilkan figur - figur terkenal NTT terutama tenun, bahasa, adat istiadat NTT atau hal - hal positif lainnya seperti prestasi - prestasi anak - anak NTT di berbagai level ", demikian asa Yulius Haryanto Seran, pemuda asal Kabupaten Malaka.
Oleh : Emilianus Yakob Sese Tolo
Pertama kali kusentuh jemari lentiknya malam itu. Seketika, pipihnya
merona seperti delima dan wajahnya pasrah. Rupanya dia tak keberatan.
Kusegera menyingsingkan lengan menggenggam tangannya dan menyentuh
hatinya berziarah menyelusuri lorong-lororong sepi nan sempit. Cahaya
temaran bulan yang mengantung di langit mengedipkan terang sehinggga
kami dapat melenggang dengan tenang. Tak lama kemudian kami mencapai
bukit kecil yang di sekitarnya tumbuh pohon-pohon cemara.
Di sela-sela pohon cemara itu, ada sebongkah batu sebesar meja makan keluarga dengan permukaan datar. Di atas batu itulah, aku dan dia duduk saling merapatkan tubuh kami berdua sambil memandang bintang-bintang di langit yang cerah. Tak lama kemudian, dia menyandarkan kepalanya pada dadaku.
Sesekali aku menggoda dan merayunya dengan kata. Namun, dia hanya membalasnya dengan tatapan. Ketika tatapan kami saling menyapa, dia mendorong bibirnya yang agak basah ke arahku. Dan, angin sepoi-sepoi malam pun menyapu tubuh kami berdua menjadi satu. Detik itu pun bibir kami pun saling berpagut. Tidak ada lagi kata yang terurai antara aku dan dia. Hanya tangan kami saling menyapa dan meraba. Mata saling berbicara. Semuanya perlahan mengalirkan kehangatan. Penyair terhebat sekaliber Khalil Gibran pun tak dapat melukisnya keindahaan dan kenikmatan cinta kami malam itu.
Itulah awal kisah cintaku bersamanya. Dialah perempuan pertama yang membentur cintanya pada dinding kelaki-lakianku yang membuat aku mengalami indahnya ‘jatuh cinta’.
***
Di tanggal terakhir bulan Sepetember 2009, di ruang tunggu bandara udara Komodo, Labuan Bajo-Flores, hempasan ciumanku yang terakhir membuat air beningnya mengalir menjalari pipinya. Namun, ketika pesawat yang ditumpanginya melayang di udara dan menghilang ditelan langit nan biru, giliran air mataku yang berderai membasahi tanah leluhurku yang kurus.
Sejak hari perpisahan itu, hubungan kami hanya bersandar pada SMS. Senja itu, ketika hari Natal 25 Desember 2010, dia meneleponku. Waktu itu aku bahagia sekali. Itulah pertama kali aku mendengar suaranya sejak perpisahan kami. Dia mengucapkan selamat Natal untukku. Bukan hanya itu. Dia juga memberikan informasi kepadaku yang membuat aku melompat kegirangan.
Aku akan melanjutkan studi Masterku. Itulah yang membuat aku melompat kegirangan mendapat kabar darinya. Ternyata dengan lembaran-lembaran surat-surat berharga yang aku berikan kepadanya setahun yang lalu, dia dengan diam-diam mencarikan beasiswa agar aku bisa melanjutkan Masterku di Norwegia. Dia bercerita bahwa ada satu LSM yang bergerak di bidang ‘Lingkungan Hidup di Negara Sedang Berkembang’ bersedia memberikan aku beasiswa.
Sejak itu hidupku terasa sangat bahagia. Sebab, aku akan bersekolah lagi. Aku akan mengalami lagi suasana kampus yang sudah lama kutinggalkan dan kurindukan. Bukan di Flores. Bukan di Bali. Bukan di Jawa. Pokoknya, bukan di Indonesia. Tetapi, luar negeri, di salah satu negeri kutub utara, yang dikenal sebagai jalan ke Utara, yakni Norwegia.
Bukan cuma itu yang membuat aku bahagia. Bertemu dengan dia adalah kebahagiaanku yang paling aku rindukan yang akan segera menjadi kenyataan. Karena itu, kami bisa kembali mengulangi kemesraan yang dulu pernah kami anyam bersama dalam jiwa kami lewat belaian, rabaan, dekapan dan pagutan bibir yang basah.
Ketika membayangkan bagaimana rasanya berjumpa dia kembali, aku selalu tersenyum sendiri. Sepintas, aku seperti orang sinting. Mujur, aku tidak pernah kedapatan melakukan tingkah gila ini. Sebab, biasanya, bayangan seperti ini baru muncul setiap kali aku menyepi di tempat tidur ketika malam sudah semakin larut.
Dalam bayang itu, aku sering melihat dia di ruang tunggu kedatangan di salah satu bandar udara di Norwegia dengan mata berkaca-kaca memandangku, lalu membenamkanku dalam dekapannya yang lama. Karena eratnya dekapan itu, aku bisa merasakan lembut daging tubuhnya, hangat tubuhnya, dan detak jantungnya yang menggebu-gebu. Semua itu mengalirkan sensasi yang menggembirakan yang membuat bibirku terus mengulum senyum.
Dalam hayalanku itu, aku juga melihat orang-orang yang menatap kami dengan penuh tanya. Betapa tidak, dua insan dari kutub yang yang berbeda dengan ciri fisik yang sama sekali berbeda menyatu dalam dekapan hangat yang lama sambil air mata haru mengalir lambat-lambat dari bola penglihatannya. Aku berkulit gelap, berhidung mancung, berambut hitam keriting, bertubuh agak kurus dengan tinggi di atas rata-rata. Melihat ciri fisikku, orang berpikir aku adalah hasil blasteran Afrika dan India. Padalah, aku produk asli Nagekeo, Flores. Namun, dia berkulit putih bersih, berhidung mancung, berambut lurus dan agak pirang, dan bertubuh atletis. Secara sepintas, dia mirip para artis dalam film-film Holywood yang pernah aku nonton.
Saban hari aku ingin agar malam cepat-cepat menjeput senja. Sebab, pada malam hari yang sepi, di kamar tidurku, aku menemukan surga yang terlukis di wajahnya dalam khayalanku. Itu semua membawa energi bahagia yang meledak-ledak dalam diriku. Bila sudah demikian, aku tak ingin rasa kantuk membunuh khayalku itu. Jika rasa kantuk datang, aku berusaha melawannya. Akibatnya, aku selalu tidur larut malam. Kadang-kadang, khayalan itu berubah menjadi mimpi yang indah yang membuat pagiku lebih indah dan hariku lebih berwana.
Sudah enam malam berturut-turut aku tertidur di kamarku dalam khayalku itu. Di malam ke enam, sekitar pukul 23.00, handphoneku berdering. Ternyata dia meneleponku. Aku cepat-cepat mengangkatnya. Dari seberang, aku mendengar lagi suaranya yang paling aku rindukan. Dengan riang, aku segera menyapanya dan mengucapkan Selamat Tahun Baru 2011. Tapi, suara dari seberang tidak segera membalas ucapan selamatku.
Tiba-tiba, di ujung telepon, kudengar ada suara tangis pecah. Aku bertanya mengapa dia menangis. Tetapi, suara dari seberang mengaku bahwa dia adalah adik kandung orang yang aku kenal. Sungguh, suaranya bagai pinang dibela dua dengan pujaan hatiku. Dengan hati gelisah aku menanyakan kenapa adik kandung pujaan hatiku ini menangis. Jawaban dari seberang membuat jantungku tak berdetak dan pandanganku kabur. Aku roboh dan tak berdaya. Aku pingsan tak sadarkan diri. Aku tak ingat apa yang terjadi setelahnya.
Sejak saat itu, hidupku menjadi kacau. Rencana studi ke Norwegia aku batalkan secara sepihak walaupun pihak LSM dari Norwegia terus merayuku. Aku pun sering mabuk-mabukan. Uang tabunganku habis hanya untuk membeli minuman beralkohol. Aku sering bergadang bersama para pemuda nakal. Aku sering membuat keonaran. Orang tua, keluarga dan para tentanggaku sering mengutukku. Tetapi, aku tak peduli.
***
Di sela-sela pohon cemara itu, ada sebongkah batu sebesar meja makan keluarga dengan permukaan datar. Di atas batu itulah, aku dan dia duduk saling merapatkan tubuh kami berdua sambil memandang bintang-bintang di langit yang cerah. Tak lama kemudian, dia menyandarkan kepalanya pada dadaku.
Sesekali aku menggoda dan merayunya dengan kata. Namun, dia hanya membalasnya dengan tatapan. Ketika tatapan kami saling menyapa, dia mendorong bibirnya yang agak basah ke arahku. Dan, angin sepoi-sepoi malam pun menyapu tubuh kami berdua menjadi satu. Detik itu pun bibir kami pun saling berpagut. Tidak ada lagi kata yang terurai antara aku dan dia. Hanya tangan kami saling menyapa dan meraba. Mata saling berbicara. Semuanya perlahan mengalirkan kehangatan. Penyair terhebat sekaliber Khalil Gibran pun tak dapat melukisnya keindahaan dan kenikmatan cinta kami malam itu.
Itulah awal kisah cintaku bersamanya. Dialah perempuan pertama yang membentur cintanya pada dinding kelaki-lakianku yang membuat aku mengalami indahnya ‘jatuh cinta’.
***
Di tanggal terakhir bulan Sepetember 2009, di ruang tunggu bandara udara Komodo, Labuan Bajo-Flores, hempasan ciumanku yang terakhir membuat air beningnya mengalir menjalari pipinya. Namun, ketika pesawat yang ditumpanginya melayang di udara dan menghilang ditelan langit nan biru, giliran air mataku yang berderai membasahi tanah leluhurku yang kurus.
Sejak hari perpisahan itu, hubungan kami hanya bersandar pada SMS. Senja itu, ketika hari Natal 25 Desember 2010, dia meneleponku. Waktu itu aku bahagia sekali. Itulah pertama kali aku mendengar suaranya sejak perpisahan kami. Dia mengucapkan selamat Natal untukku. Bukan hanya itu. Dia juga memberikan informasi kepadaku yang membuat aku melompat kegirangan.
Aku akan melanjutkan studi Masterku. Itulah yang membuat aku melompat kegirangan mendapat kabar darinya. Ternyata dengan lembaran-lembaran surat-surat berharga yang aku berikan kepadanya setahun yang lalu, dia dengan diam-diam mencarikan beasiswa agar aku bisa melanjutkan Masterku di Norwegia. Dia bercerita bahwa ada satu LSM yang bergerak di bidang ‘Lingkungan Hidup di Negara Sedang Berkembang’ bersedia memberikan aku beasiswa.
Sejak itu hidupku terasa sangat bahagia. Sebab, aku akan bersekolah lagi. Aku akan mengalami lagi suasana kampus yang sudah lama kutinggalkan dan kurindukan. Bukan di Flores. Bukan di Bali. Bukan di Jawa. Pokoknya, bukan di Indonesia. Tetapi, luar negeri, di salah satu negeri kutub utara, yang dikenal sebagai jalan ke Utara, yakni Norwegia.
Bukan cuma itu yang membuat aku bahagia. Bertemu dengan dia adalah kebahagiaanku yang paling aku rindukan yang akan segera menjadi kenyataan. Karena itu, kami bisa kembali mengulangi kemesraan yang dulu pernah kami anyam bersama dalam jiwa kami lewat belaian, rabaan, dekapan dan pagutan bibir yang basah.
Ketika membayangkan bagaimana rasanya berjumpa dia kembali, aku selalu tersenyum sendiri. Sepintas, aku seperti orang sinting. Mujur, aku tidak pernah kedapatan melakukan tingkah gila ini. Sebab, biasanya, bayangan seperti ini baru muncul setiap kali aku menyepi di tempat tidur ketika malam sudah semakin larut.
Dalam bayang itu, aku sering melihat dia di ruang tunggu kedatangan di salah satu bandar udara di Norwegia dengan mata berkaca-kaca memandangku, lalu membenamkanku dalam dekapannya yang lama. Karena eratnya dekapan itu, aku bisa merasakan lembut daging tubuhnya, hangat tubuhnya, dan detak jantungnya yang menggebu-gebu. Semua itu mengalirkan sensasi yang menggembirakan yang membuat bibirku terus mengulum senyum.
Dalam hayalanku itu, aku juga melihat orang-orang yang menatap kami dengan penuh tanya. Betapa tidak, dua insan dari kutub yang yang berbeda dengan ciri fisik yang sama sekali berbeda menyatu dalam dekapan hangat yang lama sambil air mata haru mengalir lambat-lambat dari bola penglihatannya. Aku berkulit gelap, berhidung mancung, berambut hitam keriting, bertubuh agak kurus dengan tinggi di atas rata-rata. Melihat ciri fisikku, orang berpikir aku adalah hasil blasteran Afrika dan India. Padalah, aku produk asli Nagekeo, Flores. Namun, dia berkulit putih bersih, berhidung mancung, berambut lurus dan agak pirang, dan bertubuh atletis. Secara sepintas, dia mirip para artis dalam film-film Holywood yang pernah aku nonton.
Saban hari aku ingin agar malam cepat-cepat menjeput senja. Sebab, pada malam hari yang sepi, di kamar tidurku, aku menemukan surga yang terlukis di wajahnya dalam khayalanku. Itu semua membawa energi bahagia yang meledak-ledak dalam diriku. Bila sudah demikian, aku tak ingin rasa kantuk membunuh khayalku itu. Jika rasa kantuk datang, aku berusaha melawannya. Akibatnya, aku selalu tidur larut malam. Kadang-kadang, khayalan itu berubah menjadi mimpi yang indah yang membuat pagiku lebih indah dan hariku lebih berwana.
Sudah enam malam berturut-turut aku tertidur di kamarku dalam khayalku itu. Di malam ke enam, sekitar pukul 23.00, handphoneku berdering. Ternyata dia meneleponku. Aku cepat-cepat mengangkatnya. Dari seberang, aku mendengar lagi suaranya yang paling aku rindukan. Dengan riang, aku segera menyapanya dan mengucapkan Selamat Tahun Baru 2011. Tapi, suara dari seberang tidak segera membalas ucapan selamatku.
Tiba-tiba, di ujung telepon, kudengar ada suara tangis pecah. Aku bertanya mengapa dia menangis. Tetapi, suara dari seberang mengaku bahwa dia adalah adik kandung orang yang aku kenal. Sungguh, suaranya bagai pinang dibela dua dengan pujaan hatiku. Dengan hati gelisah aku menanyakan kenapa adik kandung pujaan hatiku ini menangis. Jawaban dari seberang membuat jantungku tak berdetak dan pandanganku kabur. Aku roboh dan tak berdaya. Aku pingsan tak sadarkan diri. Aku tak ingat apa yang terjadi setelahnya.
Sejak saat itu, hidupku menjadi kacau. Rencana studi ke Norwegia aku batalkan secara sepihak walaupun pihak LSM dari Norwegia terus merayuku. Aku pun sering mabuk-mabukan. Uang tabunganku habis hanya untuk membeli minuman beralkohol. Aku sering bergadang bersama para pemuda nakal. Aku sering membuat keonaran. Orang tua, keluarga dan para tentanggaku sering mengutukku. Tetapi, aku tak peduli.
***
Setelah berjumpanya malam ini di salah satu bukit kecil beralaskan salju
yang di sekitarnya tumbuh pohon-pohon seperti cemara, aku terbangun
dari lelapku dan air beningku pun jatuh satu-satu. Aku terus menangis
sendirian di kamarku. Dalam diam, air mata terus mengalir membentuk
garis-garis putih di pipiku.
Inilah pertama kali aku berjumpanya dalam mimpiku sejak dia berpulang untuk selamanya di hari pertama tahun 2011. Dia pergi untuk selamanya dalam kecelakaan mobil yang dikendarainya sendiri setelah pulang dari sebuah pesta akhir tahun. Mobilnya ditabrak oleh mobil lain yang dikendarai oleh seorang lelaki berumur mendekati dua puluhan yang sedang mabuk. Lehernya patah dan kepalanya pecah. Pendarahan hebat membuatnya lebih awal meninggalkanku yang selalu merindukannya di dunia ini untuk selamanya. Kepergiannya meninggalkan luka parah dalam hidupku.
Tetapi, setelah berjumpa dia malam ini, aku berniat agar esok hari, ketika mata hari terbit di ufuk timur, aku tetap menghidupi cinta dan kebaikannya dalam ragaku. Dengan raga yang sama ini, aku akan mencintainya. Namun, cintaku padanya melampaui itu semua dan akan teraktualisir dalam setiap kata dan perbuatanku. Aku akan menghidupi cintaku padanya dalam setiap jengkal hidupku, dalam utung dan malang, suka dan duka.
Esok hari ketika bumi bermandikan cahaya matahari, aku berjanji demi langit dan bumi bahwa aku tidak akan lagi menyakiti diriku dengan minuman-minuman beralkohol. Aku bertobat berbuat keonaran yang membuat aku sering dikasari dengan kata-kata kutukan dari orang-orang yang mengenal dan mencintaiku. Aku berbuat itu semua karena bukti kesetiaanku padanya. Dia, yang baru saja kujumpai itu dalam mimpiku, memintaku untuk membuktikan cintaku padanya dengan tidak melakukan segala yang menyakiti diriku sendiri dan orang lain yang telah aku perbuat sejak kepergiannya ke alam keabadian.
Akhirnya, dalam heningnya malam, kupersembahkan doaku pada sang Khalik agar satu waktu aku bisa berdiri di pusaranya memenyalakan lilin kerinduan padanya yang tak bertepi. Jika aku tak bisa menggapai pusaranya, aku berjanji demi kematian dan kehidupan, bahwa kerinduanku padanya akan terus berkanjang sampai aku bertemunya di Surga. Di hadapan para malaikat dan Raja Surga, aku ingin sekali lagi mengecup keningnya dan membenamkannya dalam pelukanku sambil membisikan kalimat yang telah kuukir dalam dinding jiwaku selamanya: ‘AKU MENCITAIMU HELENA, GADIS NORWEGIAKU’.
Yogyakarta, 18 Juni 2013
Inilah pertama kali aku berjumpanya dalam mimpiku sejak dia berpulang untuk selamanya di hari pertama tahun 2011. Dia pergi untuk selamanya dalam kecelakaan mobil yang dikendarainya sendiri setelah pulang dari sebuah pesta akhir tahun. Mobilnya ditabrak oleh mobil lain yang dikendarai oleh seorang lelaki berumur mendekati dua puluhan yang sedang mabuk. Lehernya patah dan kepalanya pecah. Pendarahan hebat membuatnya lebih awal meninggalkanku yang selalu merindukannya di dunia ini untuk selamanya. Kepergiannya meninggalkan luka parah dalam hidupku.
Tetapi, setelah berjumpa dia malam ini, aku berniat agar esok hari, ketika mata hari terbit di ufuk timur, aku tetap menghidupi cinta dan kebaikannya dalam ragaku. Dengan raga yang sama ini, aku akan mencintainya. Namun, cintaku padanya melampaui itu semua dan akan teraktualisir dalam setiap kata dan perbuatanku. Aku akan menghidupi cintaku padanya dalam setiap jengkal hidupku, dalam utung dan malang, suka dan duka.
Esok hari ketika bumi bermandikan cahaya matahari, aku berjanji demi langit dan bumi bahwa aku tidak akan lagi menyakiti diriku dengan minuman-minuman beralkohol. Aku bertobat berbuat keonaran yang membuat aku sering dikasari dengan kata-kata kutukan dari orang-orang yang mengenal dan mencintaiku. Aku berbuat itu semua karena bukti kesetiaanku padanya. Dia, yang baru saja kujumpai itu dalam mimpiku, memintaku untuk membuktikan cintaku padanya dengan tidak melakukan segala yang menyakiti diriku sendiri dan orang lain yang telah aku perbuat sejak kepergiannya ke alam keabadian.
Akhirnya, dalam heningnya malam, kupersembahkan doaku pada sang Khalik agar satu waktu aku bisa berdiri di pusaranya memenyalakan lilin kerinduan padanya yang tak bertepi. Jika aku tak bisa menggapai pusaranya, aku berjanji demi kematian dan kehidupan, bahwa kerinduanku padanya akan terus berkanjang sampai aku bertemunya di Surga. Di hadapan para malaikat dan Raja Surga, aku ingin sekali lagi mengecup keningnya dan membenamkannya dalam pelukanku sambil membisikan kalimat yang telah kuukir dalam dinding jiwaku selamanya: ‘AKU MENCITAIMU HELENA, GADIS NORWEGIAKU’.
Yogyakarta, 18 Juni 2013





