Oleh : Pieter Sambut

Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Dewan Pimpinan Pusa Forum Komunikasi Masyarakat Flobamora ( DPP-FKM FLOBAMORA )

Logo FKM FLOBAMORA
Sepak bola yang dikenal sebagai olahraga yang merakyat tidak hanya sekedar media pencapaian prestasi (kemenangan). Sepak bola sesungguhnya mempunyai muatan-muatan nilai kemanusiaan (humanistic value) yang dapat membantu pembentukan kepribadian dan solidaritas sosial. Karena itu, secara substansial sepak bola dapat menjadi media pembelajaran dan internalisasi nilai-nilai yang mununjang kualitas kehidupan bersama.

Ketika orang bermain sepak bola, sebetulnya orang tidak hanya belajar teknik berlari, menendang atau mengolah si kulit bundar dan bagaimana memasukannya ke gawang lawan. Sepak bola juga tidak hanya terkait dengan strategi dan pola bermain untuk mencapai kemenangan (prestasi).
Jika hanya kemenangan yang diusung, maka lapangan sepak bola ibarat “medan perang” yang sarat dengan nafsu untuk meraih kemenangan, bahkan dengan cara-cara yang tidak sportif seperti bermain kasar atau dengan sengaja men-tackle lawan hingga terjungkal, yang pada akhirnya memancing keributan di antara pemain ataupun suporter. Prinsip fair play yang menjadi roh dari sepak bola diabaikan.

Padahal secara kontekstual, ketika orang bermain sepak bola sesungguhnya orang tengah mempelajari banyak nilai seperti kedisiplinan melalui kepatuhan terhadap jadwal berlatih dan instruksi pelatih, ketaatan terhadap peraturan-peraturan pertandingan, kerja sama tim (team work), tanggungjawab, fighting spirit (semangat juang) dan kerja keras.

Sepak bola adalah permainan kolektif. Keterampilan individu harus memberi kontribusi maksimal bagi kesuksesan tim. Dari setiap pemain dituntut pengorbanan diri untuk kepentingan tim. Pengorbanan diri yang terwujud dalam kerja sama tim membuat sepak bola ibarat sebuah okestra yang tidak saja enak dipandang mata, tetapi juga sangat menghibur penonton.
Dalam sepak bola orang juga belajar nilai sportivitas, fairplay, kejujuran, cinta kasih, toleransi dan solidaritas sosial yang merupakan nilai-nilai universal yang mampu menembus sekat-sekat perbedaan suku, bahasa, agama dan antar golongan. Itulah sebabnya sepak bola telah menjadi media pemersatu yang efektif dan sekaligus media hiburan massal yang mampu menyedot banyak penonton, entah orang tua atau anak-anak dan bahkan kaum hawa.

Copa Flobamora I 2019 yang digagas Forum Komunikasi Masyarakat (FKM) Flobamora melalui Departemen Pemuda dan Olahraga bukan even baru bagi masyarakat Flobamora diaspora, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Sejumlah even sejenis, baik berskala kabupaten seperti Ngada Cup, Wuamesu Cup, Ikamasi Cup maupun berskala regional seperti Copa Florete dan Copa NTT selalu menyisahkan persoalan klasik, yaitu bentrokan antar pemain yang melibatkan official dan bahkan para penonton. Lapangan sepak bola menjadi panggung adu jotos.
Akibat bentrokan fisik beberapa turnamen kini tinggal cerita masa lalu. Sebut saja Manggarai Cup, Copa Florete dan Copa NTT. Bukan hanya itu. Para pengelola GOR atau stadion di Jakarta menjadi alergi dengan even sepak bola orang Flores dan NTT pada umumnya. Soalnya, keributan antar pemain berimbas pada rusaknya fasilitas GOR atau stadion. Kalau saat ini Panitia Copa Flobamora 2019 agak sulit mendapatkan lapangan pertandingan, itu adalah hasil tuaian dari benih yang kita tabur selama ini.

Dari pengamatan saya terhadap sejumlah turnamen sepak bola yang diselenggarakan masyarakat Flobamora diaspora, bentrokan fisik atau perkelahian di lapangan tidak selalu bermula dari benturan fisik (body touch). Benturan fisik dalam sepak bola adalah hal biasa, apalagi yang main orang NTT.
Bentrokan fisik di lapangan saat pertandingan sebenarnya berkaitan dengan mentalitas pemain dan official. Para pemain dan official tidak mampu mengendalikan diri dan main hakim sendiri. Padahal ada wasit yang memimpin pertandingan dan ada regulasi yang sudah disosialisasi dan disepakati bersama. Panitia juga memiliki perangkat Komisi Disiplin yang berwenang untuk menjatuhkan sanksi kepada pemain atau tim kesebelasan yang melanggar peraturan, mulai dari teguran tertulis hingga sanksi diskualifikasi.

Masalah mentalitas lain yang sering memicu bentrokan fisik di lapangan adalah sikap atau perilaku sejumlah pemain yang menjadikan lapangan sepak bola sebagai panggung untuk menunjukkan eksistensinya atau dalam bahasa milenial disebut caper. Mereka ingin pengakuan dari sesamanya bahwa mereka “jago.”
Sayang, penyakit pamer ke-jago-annya itu ditunjukkan di tempat yang salah, di antara sesama anak Flobamora. Seharusnya mereka pamer ke-jago-annya di tempat lain dengan mengukir prestasi yang membanggakan masyarakat Flobamora, baik di bidang akademik, sosial kemanusiaan dan prestasi-prestasi lainnya.

Sepak bola memang sarat dengan gengsi atau prestise, apalagi yang diusung adalah harga diri kabupaten atau daerah asal. Namun untuk meraih gengsi atau prestise tersebut tidak instan. Tidak juga dengan cara-cara yang mencederai persaudaraan sebagai sesama anak Flobamora. Gengsi atau prestise adalah hasil dari sebuah proses disiplin diri para pemain dalam berlatih dan membangun kerjasama tim. Sayang, kita lebih mengutamakan hasil akhir (gengsi atau prestise) daripada proses pembelajaran.

Sebagaimana dinyatakan Ketua Umum FKM Flobamora, Marsel Muja, pada acara Technical Meeting pekan lalu, bahwa turnamen Copa Flobamora lebih menekankan aspek persaudaraan daripada prestasi. Karena itu, seluruh pemain, official dan para penonton harus menjunjung
i tinggi fair play, sportivitas, solidaritas dan mampu mengendalikan diri di lapangan serta patuh pada peraturan dan kesepakatan yang telah disetujui bersama.

Turnamen Copa Flobamora diharapkan akan menciptakan babak baru solidaritas dan soliditas sosial di antara masyarakat Flobamora, baik di diaspora maupun di bumi Flobamora, serta memperkokoh persatuan nasional dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita semua berharap, penyelenggaraan Copa Flobamora 2019 lebih berkualitas daripada even-even sejenis sebelumnya. Untuk itu seluruh pemain dan official serta para supoter harus sepakat bahwa sepak bola merupakan salah satu media yang mempersatukan kita sebagai sesama anak Flobamora.
Jika masih ada pemandangan yang tidak elok dipandang mata di lapangan, seperti bentrokan fisik/perkelahian atau perilaku yang tidak terpuji yang mencederai asas sportivitas, fair play dan persaudaraan yang saling mendukung dalam turnamen Copa Flobamora 2019, berarti kita gagal belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan/persaudaraan dalam sepak bola. Jika demikian, turnamen Copa Flobamora 2019 mungkin saja akan senasib dengan Copa Florete dan Copa NTT yang sudah almarhum.

Semoga Copa Flobamora 2019 bisa menjadi rumah besar yang mampu memayungi seluruh masyarakat NTT diaspora dan juga menjadi tempat kita merajut persaudaraan yang saling mendukung. Dalam kebersamaan kita melangkah menuju NTT Bangkit. Bae sonde bae NTT lebe bae. Selamat bertanding! ***

Oleh : 
Gabriel Felipe Didinong Say
Ketua Departemen Penanganan Masalah Sosial, 
Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Flobamora
 (DPP-FKM FLOBAMORA)

Gabriel Felipe Didinong Say (Album Pribadi)
Dalam kata 'regang' (bahasa Sikka-NTT) nampak 'local genius' orang Sikka. Regang berarti 'bertemu', bisa juga berarti pasar. Pasar adalah tempat di mana terjadi pertemuan antara Penjual dan Pembeli. Dalam interaksi jual beli tersebut terjadi kesepakatan tentang barang dan harga.
Baik mari kita simak beberapa ahli di bidang ekonomi pernah yang pernah menjelaskan tentang definisi pasar. Berikut adalah penjelasan mengenai pengertian pasar menurut para ahli:

Menurut William J. Stanton, memberi pengertian pasar adalah sekumpulan orang yang ingin meraih kepuasan dengan menggunakan uang untuk berbelanja, serta memiliki kemauan untuk membelanjakan uang tersebut. 

Menurut Kotler dan Amstrong, pengertian pasar adalah sejumlah pembeli aktual dan juga potensial dari sebuah produk atau jasa. Besarnya pasar tergantung pada jumlah orang yang punya kebutuhan dan mau melakukan transaksi. Banyak pemasar yang manganggap bahwa pembeli dan penjual adalah sebuah pasar, dimana pembeli akan menerima produk/ jasa yang diinginkan setelah melakukan pembayaran. Dan penjual akan mengirimkan produk/ jasa yang telah dibayar oleh si pembeli.

Pasar di Maumere

Konsep pasar di Maumere semula adalah pertukaran barang atau barter. Pelaut Bugis dan Bajau datang membawa ikan, parang, pisau, garam, senapang dan bubuk mesiu, kain dll bertukar dengan hewan ternak, candu, budak, dll dari pribumi setempat. Lama kelamaan karena semakin ramai maka pasar membutuhkan tempat atau lahan khusus untuk bertukaran atau kemudian berjual beli.

Lahan pasar awal di Maumere adalah sebidang tanah lapang dengan beberapa pohon besar. Pohon besar rimbun seperti pohon rimba (bao) selain untuk tempat berteduh juga untuk mata jaran, wawi dan widin yang ingin dijual orang orang dari Wolet. Pada pohon-pohon bao itu orang Brai yang datang dengan rombongan berkuda hendak menjual moke juga biasa menggantungkan bambu bambu berisi tuak. Sementara di bidang tanah lapang mama mama dari Nelle Koting dan Nita menghamparkan dagangannya seperti siri pinang, somu dagalais dan lain lain. Di sudut sudut tertentu tanah lapang itu orang Bajo menjajakan ikan kering atau ikan basah dan garam.

Sekitar tahun 1950 an Raja Sikka Don Thomas da Silva mulai mengembangkan kota Maumere di seputaran Kotabaru. Maka dibangunlah Kantor pemerintahan, rumah pegawai, tangsi polisi, rumah penjara, dan lain lain termasuk beberapa los di depan tangsi polisi sebagai pasar Maumere. Sungguh ramai pasar itu. Terutama saat hari pasar yaitu hari Selasa. Ekonomi masyarakat Maumere tumbuh dan semakin bergeliat. Apalagi setelah muncul aturan agar para pedagang Tionghoa tidak boleh membuka toko di tingkat kecamatan tetapi harus berusaha di Kota Maumere. Di masa Bupati Alm. Lourens Say pada tahun 1967, pasar yang dibangun oleh Raja Thomas dilengkapi dengan kios-kios di seputaran pasar tersebut sehingga menjadi kompleks pasar yang ramai sekali. 

Gempa berskala 7 richter pada tahun 1992 meluluhlantakan lingkaran kios dan pasar itu, sehingga perlu dibangun baru. Kemudian hari di masa bupati Alex Longginus di Maumere ada dibangun lagi pasar baru yang dikenal sebagai Pasar Alok di sekitar barat kota Maumere. Pasar yang konon diwarnai oleh kontroversi anggaran. Selain pasar pasar tersebut di atas, di Kota Maumere juga terdapat beberapa lokasi pasar 'dadakan' atau darurat seperti 'pasar ikan' di seputaran tempat pendaratan ikan di belakang Toko Nita yang ramai dibicarakan belakangan ini.

Pasar Online hari ini

Di Jakarta saya tinggal di seberang Mall Manggadua Square di kawasan Jakarta Utara. Saat awal launching dan tahun-tahun pertama beroperasi sekitar 1997 mall ini sungguh ramai penuh sesak dikunjungi masyarakat untuk berbelanja, wisata kuliner, cuci mata, dll. Namun hari ini mall ini relatif menjadi sepi...banyak ruang kosong dan alih fungsi. Ada beberapa sebab. Namun yang paling utama adalah akibat perubahan teknologi komunikasi. Sekarang ini orang lebih suka belanja online daripada berdesakan di pasar. Hemat, simpel, efisien dan lebih murah.

Pemasaran online adalah praktik memanfaatkan saluran berbasis web untuk menyebarkan pesan tentang merek, produk, atau layanan perusahaan kepada calon pelanggannya. Metode dan teknik yang digunakan untuk pemasaran online termasuk email, media sosial, periklanan tampilan, optimisasi mesin pencari, dan banyak lagi. Tujuan pemasaran adalah untuk menjangkau calon pelanggan melalui saluran di mana mereka menghabiskan waktu untuk membaca, mencari, berbelanja, atau bersosialisasi secara online.

Adopsi Internet yang meluas untuk bisnis dan penggunaan pribadi telah menghasilkan banyak saluran baru untuk keterlibatan periklanan dan pemasaran, termasuk yang disebutkan di atas. Ada juga banyak manfaat dan tantangan yang melekat pada pemasaran online, yang menggunakan media digital terutama untuk menarik, melibatkan, dan mengkonversi pengunjung virtual ke pelanggan.
Pemasaran online berbeda dari pemasaran tradisional, yang secara historis mencakup media seperti iklan cetak, billboard, televisi, dan radio.

Tulisan sederhana ini selain sebagai bahan bacaan juga menjadi spirit awal untuk pembisnis muda untuk melakukan jualan maupun toko online. Atau bisa juga kita sebut sebagai lapak online. Nantinya ini kita gunakan sebagai tempat jualan online atau berpromosi di internet.
Kalau kita flashback ke langkah sebelumnya, kita harus memutuskan produk-jasa apa yang mau kita jual. Bahasa mudahnya, apa yang mau kita tawarkan kepada pelanggan. Nah, jika sudah ketemu, selanjutnya kita harus mempromosikan supaya orang lain tahu, dan menjualnya agar kita mendapatkan penghasilan. Untuk itu, kita membutuhan sarana, atau dengan kata lain tempat untuk berjualan.

Salah satu benefit menjalankan bisnis lewat internet, kita tidak harus menggunakan tempat secara fisik, seperti bangunan toko, bangunan ruko, atau gedung yang besar. 
“Tempat” dalam hal ini bisa kita alihkan ke suatu bentuk “tempat digital” yang bisa diakses secara online melalui internet. Tempat itu bisa berbentuk website, toko online, media sosial, maupun situs marketplace. Karena kita hendak memanfaatkan media internet atau berjualan via online.

Mengakhiri tulisan singkat ini barangkali bisa pula menjadi permenungan untuk penyelenggara daerah, bagaimana nasib pasar tradisional kita seperti pasar-pasar di maumere dalam menghadapi perkembangan rengang online yang akan berkembang pesat parasite hingga ke pelosok/pedalaman desa ataupun kampong yang paling terisolir sekalipun.


“MAKNA SIMBOLIK DIBALIK PERTEMUAN
 JOKOWI-PRABOWO”

Sonny Y. Soeharso
Anggota Perhimpunan Amerta Pancasila


Pertemuan Jokowi dan Prabowo di MRT
“Tidak ada lagi 01, tidak ada lagi 02. Tidak ada lagi Cebong, tidak ada lagi Kampret yang ada adalah Garuda Pancasila, dan Merah Putih” demikian inti ucapan bijak kedua tokoh yang berkompetisi dalam ajang Pilpres 2019 yang lalu saat bertemu di stasiun MRT Jakarta, Sabtu 13 Juli 2019. Sebuah statement yang mengandung makna sekaligus harapan kepada kita semua untuk segera menghentikan perseteruan emosional dan psikologis “ingroup-outgroup” yang masih terasa residunya di masyarakat hingga saat ini. Dengan pernyataan itu, maka para pendukung setia dan para loyalis (die hard) masing-masing kubu di tingkat grass root untuk segera melakukan hal yang sama dengan apa kedua tokoh lakukan hari ini
Pertemuan kedua tokoh nasional yang juga tokoh politik tersebut sama-sama menyatakan mereka adalah dua sahabat, dua kawan dan ini yang terpenting mereka adalah sesama saudara sebangsa dan setanah air. Masih banyak persoalan kenegaraan dan kebangsaan yang akan dihadapi oleh Presiden terpilih Jokowi untuk lima (5) tahun ke depan pemerintahannya bersama wapres terpilih KH Maaruf Amin. Sehingga apabila energi seluruh komponen bangsa “hanya” digunakan untuk perseteruan emosional atas sesuatu proses siklus politik yang sudah paripurna, rasanya itu tidak akan membawa kemajuan, dan kemakmuran serta kebahagiaan bahkan kontra produktif bagi seluruh kekuatan masyarakat dan negara Indonesia.
Kesadaran atas pentingnya dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan politik praktis kedua tokoh nasional itu layak diacungi dua jempol. Salut dan Bravo kepada Pak Jokowi dan Pak Prabowo, Anda berdua tidak saja tokoh politik tapi juga negarawan (stateman) karena menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan politik dan egoisme pribadi. Peristiwa bersejarah yang menunjukkan kematangan bangsa dan negara Indonesia dalam berdemokrasi telah anda berdua tunjukkan di hadapan dunia. Pertemuan yang menggambarkan “kita masih seperti yang dulu”, meski berkompetisi tapi tetap bersahabat, dan kompak sebagai anak bangsa yang peduli dengan kesejahteraan rakyat dan NKRI. Yang paling esensial adalah “tidak ada yang bisa memisahkan kita” apalagi oleh anasir-anasir yang anti Pancasila dan anti Merah Putih. Itulah mana dan kesan mendalam serta sangat penting yang bisa saya tangkap.
Sejarah membuktikan ketika suatu bangsa terpecah-belah dan secara sengaja “dilemahkan” maka akan ada pihak ketiga (dengan menanfaatkan anasir luar dan dalam negeri) yang akan memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan negara mereka. Jika ini terjadi maka baik secara politik, ekonomi, sosial budaya dan ideologi Indonesia menjadi lemah, tingkat ketergantungan kepada negara lain tinggi, dan kita akan menjadi negara yang tidak berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan tidak berkepribadian secara sosial budaya. Yang lebih gawat adalah secara Ideologis kita akan semakin dilemahkan sehingga intervensi ideologi-ideologi asing yang tidak sejalan dengan Pancasila akan dengan leluasa merambah dan merangsuk ke semua eleman bangsa. Ideologi-ideologi asing itu tidak saja berasal dari barat, timur, timur tengah, timur utara tetapi juga ideologi “laten” yang sudah dinyatakan terlarang oleh pemerintah dan negara ini.
Dari pantauan media sosial dan media mainstream, tampaknya pernyataan kedua tokoh bangsa ini cenderung mendapat respon positif bagi sebagian besar masyarakat Indonesia dan dunia. Mereka merasakan adanya kesejukan, kedamaian, keceriaan dan munculnya harapan hidup lebih baik karena adanya semangat persatuan dan kesatuan kembali diantara anak bangsa yang telah terbelah akibat kontestasi politik pilpres 2019 yang lalu. Presiden Jokowi mengharapkan juga para pendukung kedua belah pihak melakukan hal yang sama dengan apa yang telah mereka lakukan hari ini. Tidak ada sebutan cebong atau kampret lagi mulai kemarin.
Atas pernyataan kedua tokoh nasional di atas yang sama-sama mencintai negeri ini, meyakini Garuda Pancasila dan sang saka Merah Putih maka pertemuan bersejarah kedua tokoh nasional ini layak disebut “Pertemuan Garuda Pancasila” atau “Pertemuan Merah Putih”. Pernyataan yang merefleksikan secara simbolik bahwa demi NKRI dan Merah Putih mereka secara sadar, dan committed mendahulukan kepentingan nasional dengan menekan ego masing-masing.
Kedua tokoh nasional itu juga telah memberikan keteladanan “kerendahan hati” para pemimpin bangsa. Pak Jokowi sebagai Presiden petahana dan Presiden terpilih dengan “rendah hati” mau menemui rival-nya Pak Prabowo di ruang publik, di stasiun dan di gerbong moda transporatsi masal kebangaan Indonesia, MRT Jakarta. Disisi yang sama Pak Prabowo bersedia bertemu dengan Pak Jokowi di MRT secara sadar dan “rendah hati” memang belum pernah menggunakan jasa MRT selama ini. Tanpa malu dan gengsi Pak Prabowo mengakui belum pernah naik MRT dan bersedia menerima tawaran Pak Jokowi untuk bersepakat bertemu di stasiun MRT. Sungguh suatu sikap ksatria dan jujur ditunjukkan oleh kedua beliau yang patut dicontoh oleh para pendukung masing-masing.

Makna Simbolik
)    MRT
MRT kepanjangan dari Mass Rapid Transportation melambangkan kemajuan dan kecepatan untuk meraih cita-cita kemerdekaan yaitu mewujudkan masyarakat yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Untuk meraih kemajuan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan itu tidak bisa dicapai dengan cara “alon-alon asal kelakon”, lelet dan lamban tetapi hanya dengan kecepatan tinggi kita akan meraih kemenangan, dan kemajuan terutama di era revolusi industri 4.0 dan digital economy saat ini.
Stasiun dan gerbong MRT melambangkan kedua tokoh ingin memberikan teladan kepada kita semua bahwasannya bila kita memiliki niat baik, tulus dan ikhlas untuk bersama-sama membangun bangsa ini maka tidak ada lagi hal-hal yang perlu ditutup-tutupi, semua untuk satu, satu untuk semua demikian kata Bung Karno. Semua hal yang menjadi ganjalan harus diungkapkan secara transparan, terbuka dan diketahui publik terlebih ini menyangkut kepentingan nasional. MRT adalah moda transportasi rakyat maka demi kepentingan rakyat dan bangsa tak perlu ada lagi yang disembunyikan kepada rakyat.

2)    Tanggal 13 Juli

Angka 13 yang selama ini memiliki “mitos” angka sial dengan istilah “cilaka tiga belas” telah dipupuskan dan digugurkan oleh kedua tokoh nasional hari ini. Tanggal 13 bukanlah hari “buruk” atau hari yang penuh “kesialan” tetapi sebaliknya hari bersejarah, penuh arti dan makna serta hari pengharapan yang optimistik untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Tanggal 13 bukanlah hari yang harus dihindari dan dijauhi tetapi dihadapi dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tanggal 13 juga melambangkan juga bahwa kita diajak untuk berpikir rasional dan objektif tidak percaya mitos, hoax dan segala isu yang bersifat irrasional yang justru sering dipakai oleh pihak-pihak tertentu yang tidak menghendaki negara kita kuat, bersatu, makmur, maju dan menang dalam berbagai kompetisi global.

Tingkat pendidikan masyarakat kita yang masih tergolong rendah (rata-rata kelas 7/8 SMP) seringkali dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan menebar ketakutan dan kebencian kepada kelompok lain melalui berita-berita bohong dan simbol-simbol etnoreligiustik untuk memasukkan berbagai kepentingan yang menguntungkan pihak tertentu.

3)    Ucapan Selamat Langsung

Setelah kedua tokoh bertemu, berbincang di dalam gerbong MRT, memberikan pernyataan-pernyataan di hadapan puluhan wartawan media cetak dan on-line yang dilakukan secara relaks dan santai, Pak Prabowo dengan rendah hati dan ksatria memberikan ucapan selamat langsung dan selamat bekerja kepada Pak Jokowi sebagai presiden terpilih periode 2019-2024. Adanya pertanyaan kepada Pak Prabowo belum mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi, dijawab Pak Probowo, bahwa saya itu punya tatakrama, “ewuh pakewuh” suatu ekspresi sikap rasa dan emosi dalam budaya Jawa untuk menghormati orang yang lebih “tinggi” kedudukannya atau ada jarak psikologis, sehingga tak elok bila dikemukakan didepan publik tanpa berhadapan langsung dengan Pak Jokowi.  

Ucapan selamat secara langsung di hadapan publik merupakan simbol ksatria dan gentlemen dilakukan seorang pemimpin walaupun beliau “kalah” dalam kontestasi politik untuk kedua kalinya. Disisi yang sama, sikap yang ditunjukkan Pak Jokowi sangat jauh dari sikap “jumawa”, “sombong” atau “arogan”. Dengan kerendahan hati Pak Jokowi hanya mengangguk, tersenyum dan menerima jabat tangan Pak Prabowo dengan santai dan sikap sewajarnya. Sungguh sebuah ekspresi perilaku yang kstaria dan genuine yang ditunjukkan oleh kedua beliau.


4)    Simbol Pewayangan

Setelah melakukan konperensi pers yang ringan dan relaks, kedua tokoh menuju sebuah restoran di sebuah mal di kawasan Senayan Jakarta Selatan untuk menunaikan makan siang bersama. Sekilas tampak restoran itu bukanlah sebuah restoran yang mewah dan mahal tetapi yang menarik adalah kedua beliau duduk makan dibawah sebuah backdrop atau lukisan yang bergambar tokoh-tokoh pewayangan dengan ditengah tampak berdiri “gunungan”.
Wayang merupakan salah satu kesenian tradisi Nusantara yang sampai sekarang masih menghiruphembuskan nafas kehidupannya, terutama di wilayah Bali, Sunda, dan Jawa. Khususnya di Jawa, seni wayang memiliki berbagai genre, antara lain: wayang golek (wayang tengul), wayang beber, wayang wong, wayang klitik, dan wayang kulit. Berdasarkan ceritanya, wayang kulit masih dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain: wayang kancil, wayang wahyu, wayang purwa, dll.

4.a.) Gunungan

Pada masyarakat Jawa, khususnya dalam wayang kulit selalu terdapat simbol “gunungan”. Gunungan merupakan simbol kehidupan, jadi setiap gambar yang berada di dalamnya melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya.  Dalam setiap pergelaran wayang kulit selalu ditampilkan gunungan, yang berbentuk persegi lima yang terdapat gambar atau simbol di dalamnya. Gunungan ini biasanya ditampilkan dalam berbagai permainan wayang misalnya dalam wayang purwa, wayang gedog, wayang krucil, wayang golek, wayang suluh dan sebagainya.

Gunungan merupakan simbol kehidupan makhluk semesta, jadi setiap gambar yang berada di dalamnya melambangkan seluruh jagad alam raya beserta isinya mulai dari manusia sampai dengan hewan serta hutan dan perlengkapannya. Gunungan dilihat dari segi bentuk segi lima, mempunyai makna bahwa segi lima (dapat diartikan sebagai lima waktu yang harus dilakukan oleh pemeluk agama Islam atau Lima Sila yang harus dipedomani oleh seluruh Warga Negara Indonesia).  Adapun bentuk gunungan meruncing ke atas itu melambangkan bahwa manusia hidup ini menuju yang di atas yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Disebut gunungan karena bentuknya seperti gunung yang ujung atasnya meruncing. Gunungan ini dalam legendanya berisi mitos sangkan paraning dumadi, yaitu asal mulanya kehidupan ini dan disebut juga kayon. Kata kayon melambangkan semua kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya yang mengalami tiga tingkatan yakni: 1) Tanam tuwuh (pepohonan) yang terdapat di dalam gunungan, yang orang mengartikan pohon Kalpataru, yang mempunyai makna pohon hidup. 2) Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan ini menggambarkan hewan- hewan yang terdapat di tanah Jawa. 3) Kehidupan manusia yang dulu digambarkan pada kaca pintu gapura pada kayon, sekarang hanya dalam prolog dalang saja. Kayon atau gunungan yang biasanya diletakkan di tengah kadang,  disamping itu mempunyai beberapa arti, arti dari diletakkannya gunungan ada 3 yakni: pertama, dipergunakan dalam pembukaan dan penutupan, seperti halnya layar yang dibuka dan ditutup pada pentas sandiwara. Kedua, sebagai tanda untuk pergantian jejeran (adegan/babak). Ketiga,  digunakan untuk menggambarkan pohon, angin, samudera, gunung, guruh, halilintar, membantu menciptakan efek tertentu (menghilang/berubah bentuk).

Dalam kayon terdapat ukiran-ukiran atau gambar yang diantaranya :

Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga melambangkan suatu rumah atau negara yang di dalamnya ada kehidupan yang aman, tenteram dan bahagia.
Dua raksasa kembar lengkap dengan perlengkapan jaga pedang dan tameng, diinterprestasikan bahwa gambar tersebut melambangkan penjaga alam gelap dan terang. Dua naga kembar bersayap dengan dua ekornya habis pada ujung kayon. Gambar hutan belantara yang suburnya dengan kayu yang besar penuh dengan satwanya. Gambar ilu-ilu Banaspati melambangkan bahwa hidup di dunia ini banyak godaan, cobaan, tantangan dan mara bahaya yang setiap saat akan mengancam keselamatan manusia.
Pohon besar yang tinggi dibelit ular besar dengan kepala berpaling kekanan. Dua kepala makara ditengah pohon melambangkan manusia dalam kehidupan sehari mempunyai sifat yang rakus, jahat seperti setan. Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas pohon dan dua ekor ayam hutan sedang bertengkar di atas pohon, macan berhadapan dengan banteng.
Hewan-hewan tersebut menggambarkan tingkah laku manusia yakni,
Kebo = pemalas, Monyet = serakah, Ular = licik, Banteng = lambang roh , anasir tanah , dengan sifat kekuatan nafsu aluamah, Harimau = lambang roh , anasir api dengan sifat kekuatan nafsu amarah, emosional, pemarah, Naga = lambang Roh , anasir air dengan sifat kekuatan nafsu sufiah, Burung Garuda = lambang Roh , anasir udara dengan sifat kekuatan nafsu Muthmainah.
Gambar raksasa digunakan sebagai lambang kawah condrodimuka, adapun bila dihubungkan dengan kehidupan manusia di dunia sebagai lambang atau pesan terhadap kaum yang berbuat dosa akan di masukkan ke dalam neraka yang penuh siksaan.
Gambar samudra dalam gunungan pada wayang kulit melambangkan pikiran, Gambar api merupakan simbol kebutuhan manusia yang mendasar karena dalam kehidupan sehari-hari akan membutuhkannya. 7 anak tangga: berarti tujuan atau PITUtur (pemberitahuan) bahwa kita semua yang bernama hidup pasti mati ” kullu nasi dha ikhotul maut “. Gerbang/pintu selo manangkep: pintu alam kubur yang kita tuju. Pohon hayat: jalan hidup seseorang yang lurus dan mempunyai 4 anak cabang yang menjadi perlambang nafsu kita dan banyak anak cabangnya.
Sedangkan dari filosofi bentuk adalah : bentuk gunungan sendiri menyerupai serambi bilik kiri yang ada di dalam tubuh kita, itu mungkin mempunyai makna kalau kita harus menjaga apapun yang ada di dalam hati kita hanya kepada sang pencipta. Dan yang lebih hebat lagi adalah dari segi bentuk yang persisi dengan “mustoko” di atas masjid yang ada banyak di negara kita. itu perlambang dari sipembuat untuk kita supaya menjaga hati kita secar lurus (seperti pohon) kepada masjid/agama/tuhan.

Gunungan bisa diartikan lambang Pancer, yaitu jiwa atau sukma, sedang bentuknya yang segitiga mengandung arti bahwa manusia terdiri dari unsur cipta, rasa dan karsa. Sedangkan lambang gambar segi empat lambing sedulur papat dari anasir tanah, api , air, udara.

Gunungan atau kayon merupakan lambang alam bagi wayang, menurut kepercayaan hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang, menggambarkan proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta, lima zat yakni: Banu (sinar-udara-setan), Bani (Brahma-api), Banyu (air), Bayu (angin), dan Bantala (bumi-tanah).

Makara yang terdapat dalam pohon Kalpataru dalam gunungan tersebut berarti Brahma mula, yang bermakna bahwa benih hidup dari Brahma. Lukisan bunga teratai yang terdapat pada umpak (pondasi tiang) gapura, mempunyai arti wadah (tempat) kehidupan dari Sang hyang Wisnu, yakni tempat pertumbuhan hidup.

Berkumpulnya Brahma mula dengan Padma mula kemudian menjadi satu dengan empat unsur, yaitu sarinya api yang dilukiskan sebagai halilintar, sarinya bumi yang dilukiskan dengan tanah di bawah gapura, dan sarinya air yang digambarkan dengan atap gapura yang menggambarkan air berombak.

Dari kelima zat tersebut bercampur menjadi satu dan terwujudlah badan kasar manusia yang terdiri dari Bani, Banyu, Bayu, dan Bantala, sedang Banu merupakan zat makanan utamanya.

Dalam seni pewayangan ada banyak sekali kisah yang disajikan. Para penikmat seni pertunjukan wayang pasti tidak asing dengan kisah-kisah yang diambil dari karya sartra kuno, mulai dari Ramayanan sampai Mahabarata. Bukan hanya itu, setiap pagelaran wayang pasti juga ada pesan yang hendak disampaikan oleh seorang dalang. Begitu juga dengan empat tokoh pewayangan yang dikemas menjadi punakawan.

Istilah punakawan berasal dari kata pana yang artinya paham, dan kawan yang artinya teman. Jika mencari tokoh Punakawan di naskah Mahabharata dan Ramayana, jangan heran jika tokoh Punakawan tidak ada di sana. Punakawan merupakan tokoh pewayangan yang diciptakan oleh seorang pujangga Jawa. Menurut Slamet Muljana, seorang sejarawan, tokoh Punakawan pertama kali muncul dalam karya sastra Ghatotkacasraya karangan Empu Panuluh pada zaman Kerajaan Kediri.

Empat tokoh punakawan terdiri dari Semar dan ketiga anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Para Punakawan ditampilkan sebagai kelompok penceria dengan humor-humor khasnya untuk mencairkan suasana. Selain itu, Punakawan juga memiliki karakter masing-masing yang tentunya patut untuk diselami lebih dalam.

4.b) Semar
Salah satu tokoh yang selalu ada di Punakawan ini, dikisahkan sebagai abdi tokoh utama cerita Sahadewa dari keluarga Pandawa. Bukan hanya sebagai abdi, namun Semar juga kerap kali memberikan nasihat-nasihat bijaksananya untuk keluarga Pandawa. Semar digambarkan sebagai tokoh yang sabar dan bijaksana. Kepala dan pandangan Semar menghadap ke atas, menggambarkan kehidupan manusia agar selalu mengingat Sang Kuasa. Kain yang dipakai sebagai baju oleh Semar, yakni kain Semar Parangkusumorojo merupakan perwujudan agar memayuhayuning banowo atau menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Di kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai simbol ke-Esaan.
4.c) Gareng
Dalam cerita pewayangan Jawa, diceritakan Nala Gareng adalah anak Gandarwa (sebangsa jin) yang diangkat anak oleh Semar. Pancalparnor adalah nama lain Gareng yang artinya menolak godaan duniawi. Gareng memiliki kaki pincang, hal ini mengajarkan agar selalu barhati-hati dalam bertindak. Dalam suatu cerita, Gareng dulunya adalah seorang raja, namun karena ia sombong, ia menantang setiap ksatria yang ia temui dan dalam suatu pertarungan, mereka seimbang.

Tidak ada yang menang maupun kalah, namun dari pertarungan itu. Wajah Gareng yang awalnya rupawan menjadi buruk rupa. Gareng memiliki perawakan yang pendek dan selalu menunduk, hal ini menandakan kehati-hatian, meskipun sudah makmur, tetapi harus tetap waspada. Matanya juling yang menandakan ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang kejahatan. Tangannya melengkung, hal ini menggambarkan untuk tidak merampas hak orang lain.


4.d) Petruk
Petruk digambarkan sebagai sosok yang gemar bercanda, baik melalui ucapan ataupun tingkah laku. Ia adalah anak ke dua yang diangkat oleh Semar. Nama lainnya yakni Kanthong Bolong, yang artinya suka berdema. Sebagai punakawan, ia adalah sosok yang bisa mengasuh, merahasiakan masalah, pendengar yang baik, dan selalu membawa manfaat bagi orang lain.
Dalam suatu cerita, saat pembangunan candi Sapta Arga, kerajaan ditinggalkan dalam keadaan kosong. Kemudian jimat Kalimasada milik pandawa pun hilang. Jimat itu dicuri oleh Mustakaweni. Mengetahui hal itu, Bambang Irawan – anak Arjuna – bersama Petruk berusaha merebut jimat tersebut. Akhirnya jimat itu berhasil direbut oleh Bambang Irawan dan dititipkan kepada Petruk. Namun sayangnya Petruk menghilangkan jimat tersebut. Untungnya jimat itu dapat ditemukan kembali, kemudian ia meminta maaf pada Pandawa. Melalui kisah itu, Petruk ingin mengingatkan untuk memperhitungkan setiap tata kelakuan dan tidak mudah percaya kepada siapapun. Kemudian ia juga mengajarkan untuk berani mengakui kesalahan.

4.e) Bagong
Bagong adalah anak ke tiga yang diangkat oleh Semar. Diceritakan, Bagong adalah manusia yang muncul dari bayangan. Suatu ketika, Gareng dan Petruk minta dicarika teman oleh Semar, kemudian Sang Hyang Tunggal berkata “Ketahuilah bahwa temanmu adalah bayanganmu sendiri” seketika, sosok Bagong muncul dari bayangan.

Sosok Bagong digambarkan berbadan pendek, gemuk, tetapi mata dan mulutnya lebar, yang menggambarkan sifatnya yang lancang namun jujur dan sakti. Ia kerap kali melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa. Dari sikap Baagong yang tergesa-gesa itu, justru mengajarkan untuk selalu memperhitungkan apa yang hendak dilakukan, agar tidak seperti Bagong. Tokoh pewayangan satu ini juga mengingatkan bahwa manusia di dunia memiliki berbagai watak dan perilaku. Tidak semuanya baik, sehingga setiap orang harus bisa memahami watak orang lain, toleran, dan bermasyarakat dengan baik.

Orang Jawa memang menyimpan berbagai macam budaya yang beragam dan menyimpan berbagai makna yang terkandung dalam setiap itemnya, bahkan secara tidak  kita sadari sesuatu yang kita pegang sekarangpun itu juga mengandung makna filosofis yang sangat besar jika kita mau mangkaji lebih dalam.

Dengan gambaran di atas saya sedikit banyak mengetahui tantang apa makna filosofis dari gunungan yang terdapat dalam pewayangan. Dari segi bentuk maupun nilai yang terkandung dalam wayang dan dari gambar yang ada di dalamnya. Kapan dan siapa yang menciptakan gunungan tersebut, fungsi dari gunungan dalam permainan wayang.

Demi Negara Kesatuan Republik Indonesia mari kita lestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia. Jangan ada lagi kekerasan dalam mengatasi masalah, kita sebagai Bangsa yang berbudi luhur seharusnya dapat menjadi contoh bagi Negara lain. Kalau bukan kita sebagai anak bangsa siapa lagi? Semua yang ada di Indonesia kita wajib mencintainya. Negara yang kaya akan budaya, orang-orang yang ramah, menjunjung tinggi nilai kebersamaan, lingkungan yang asri, sejuk, indah yang tentunya tak kalah dengan alam yang ada di negeri orang.

Dari uraian di atas, bagi saya pribadi mempelajari ilmu filsafat khususnya Jawa mampu membuat kita lebih bijak dalam memandang segala sesuatu yang ada di dunia ini tanpa melepaskan kaidah-kaidah keagamaan yang ada untuk menjadi orang yang lebih arif dalam memaknai dan menjalani hidup ini. Selain itu setelah belajar filsafat, Kita menjadi tahu bahwasanya segala sesuatu yang ada di dunia ini akan selalu berhubungan meskipun dalam wujud yang berbeda akan tetapi kesemuanya itu jika kita mau menggali lebih dalam maka semuanya akan kembali pada satu sumber yaitu Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekuasaan didunia hanyalah sementara dan tidak akan dibawa disaat kita mati, justru sebaliknya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kekuasaan yang telah dipercayakan kepada kita selama di dunia. Selamat bekerja Pak Jokowi, dan Selamat berjuang dan berkontribusi untuk kemajuan nusa dan bangsa kepada Pak Prabowo. Amin.


Jakarta, 13 Juli 2019 ( Diolah  dan dikutip dari berbagai sumber media mainstream dan online )